Penjelasan Lengkap Rebo Wekasan

Mengenal Tradisi Tolak Bala di Hari Rabu Terakhir Bulan Safar

Rebo Wekasan, atau sering disebut sebagai Rabu Wekasan dan Rebo Pungkasan, merupakan sebuah tradisi religius-budaya yang diperingati pada hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam Kalender lunar versi Jawa dan kalender Hijriah.

Secara etimologi, “Rebo” berarti Rabu, sedangkan “Wekasan” atau “Pungkasan” memiliki arti akhir atau penutup. Tradisi ini berakar kuat pada sejarah Kesultanan Mataram Islam, khususnya dikaitkan dengan masa Sultan Agung, di mana terdapat mitos mengenai pertemuan sakral dengan penguasa laut selatan, Kanjeng Ratu Kidul, di tempuran sungai Gajah Wong dan Opak.

Dimensi Mistik

Diyakini sebagai hari turunnya 320.000 marabahaya dan penyakit ke bumi, sehingga memerlukan ritual khusus untuk keselamatan.

Sisi Spiritual

Diisi dengan doa bersama, sholawat Lidaf’il Bala, dan dzikir untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT.

Filosofi Sedekah

Wujud syukur melalui pembagian gunungan makanan seperti lemper, ketupat, dan apem sebagai simbol kerukunan masyarakat.


Upacara Adat Rebo Wekasan

Sebuah acara Sedekah Ketupat di perbatasan desa Dayeuhluhur. Rebo Wekasan sebagai simbol hari Tolak Bala.
Sumber foto: Wikimedia Commons via PinterPandai

Contoh Upacara Adat Rebo Wekasan di Nusantara

Tradisi ini dirayakan dengan berbagai cara unik di berbagai penjuru Tanah Jawa dan sekitarnya:

  • Sedekah Ketupat (Dayeuhluhur, Cilacap): Warga berkumpul di perbatasan desa untuk berbagi ketupat sebagai simbol tolak bala dan keselamatan desa.
  • Upacara Rebo Pungkasan (Bantul, Yogyakarta): Digelar di Wonokromo dengan mengarak gunungan lemper raksasa, diikuti oleh ribuan warga sebagai wujud syukur dan pelestarian budaya Mataram.
  • Tradisi Ngirab (Cirebon): Masyarakat berziarah ke petilasan Sunan Kalijaga di hari Rabu terakhir Safar, diakhiri dengan lomba mendayung di sungai.
  • Bubur Harisa (Gresik): Tradisi berbagi bubur harisa, makanan khas kaya rempah yang dibagikan kepada tetangga sebagai simbol kehangatan dan doa keselamatan.
  • Perayaan Nelayan (Kalipuro, Banyuwangi): Perayaan syukur atas limpahan hasil laut serta doa perlindungan agar para nelayan terhindar dari marabahaya saat melaut.

Rebo Wekasan Sebagai Hari Tolak Bala

Dalam pandangan Kalender Jawa (Kejawen), hampir setiap kegiatan besar memerlukan perhitungan neptu dan hari pasaran. Namun, Rebo Wekasan adalah pengecualian. Hari ini dianggap memiliki “energi” tersendiri yang sangat kuat.

Fakta Unik: Konon, menurut beberapa literatur klasik, pada hari ini diturunkan sekitar 320.000 sumber penyakit dan 20.000 bencana. Oleh karena itu, mayoritas ritual yang dijalankan bersifat Tolak Bala atau upaya preventif secara spiritual agar terhindar dari musibah tersebut.

Ritual spiritual yang umum dilakukan meliputi:

  1. Tahlilan & Zikir: Dilakukan secara kolektif di masjid atau musala untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
  2. Sholat Lidaf’il Bala: Sebagian umat muslim melakukan sholat sunnah mutlak dengan niat memohon perlindungan dari mara bahaya.
  3. Berbagi Makanan: Pembuatan nasi tumpeng, apem, dan ketupat yang kemudian dibagikan secara gratis kepada masyarakat sekitar.

Kaitan dengan Budaya Kejawen dan Islam

Seiring berjalannya waktu, tradisi Rebo Wekasan mengalami asimilasi budaya yang harmonis. Kelompok Nahdlatul Ulama (NU), misalnya, sering mengarahkan ritual ini menjadi bentuk ibadah yang sesuai syariat tanpa menghilangkan esensi budaya lokal. Sholat yang dilakukan kini lebih ditekankan sebagai sholat sunnah hajat atau mutlak agar tidak berbenturan dengan nilai-nilai akidah, namun tetap menjaga kearifan lokal dalam bentuk sedekah makanan.